Pages

Selasa, 10 April 2012

Cerpen tentang Keluarga


GARA-GARA HUJAN



Raffi masih tergeletak ditempat tidurnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.

“Raffi bangun nak ! Nanti kamu terlambat pergi ke sekolah!”, terdengar suara Ibu Raffi dibalik pintu kamarnya.

“Mmm...!”, Raffi hanya bergumam sambil menutup seluruh badannya dengan selimut dan melanjutkan mimpi indahnya yang sempat tertunda .
“Rafi bangun, sudah jam berapa iniii....! apa kamu tidak sekolah sekarang, nanti kamu telat ke Sekolah lho!”, kata Ibu untuk kesekiankalinya.
 Ibupun menepuk-nepuk dengan pelan punggung Raffi, tapi Raffi tak juga bangun. Ibu pun meminta tolong kepada Nisa untuk membangunkan adiknya Raffi karena ibu harus menyiapkan sarapan untuk mereka.
Bagi Nisa dan Raffi sosok Ibu, dialah perempuan nan tertangguh. Ibu, dialah perempuan yang paling sabar, memberi maaf saat Nisa dan Raffi bersalah, membumbui mereka dengan bekal dan menghadiakan mereka nasihat-nasihat terindahnya.
Sedang Ayah mereka jarang di Rumah. Ia sibuk dengan pekerjaannya sebagai koki masak di kapal dan kadang pulang setahun sekali bahkan lebih dari setahun. Ayah Nisa dan Raffi sangat baik dan merupakan sosok Ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Tok! Tok! Tok! “Raffi cepat bangunn!”,
Tok! Tok! Tok!, “ayolah adikku yang malas, bangun..!”, terdengar suara pintu kamar Raffi diketuk berulangkali. Suara Nisa menyuruhnya bangun. Nisa adalah kakak dari Raffi yang duduk di kelas 2 SMA, sedangkan Raffi masih duduk di kelas  3 SMP. Perbedaan umur mereka yang tidak begitu jauh membuat ego dan keras kepala mereka hampir sama. Nisa merupakan kakak yang baik tetapi usil kepada adiknya.
Raffipun tersentak dari tidurnya ketika mendengar suara pintu yang keras. Wajahnya yang kusut ditambah pipi dan tangannya yang berbekas-bekas seperti pakaian lama yang terhimpit oleh pakaian- pakaian baru.
Akhirnya Raffi  datang dengan setengah sadar, masih dalam mimpi indahnya.
"ibu, cantik sekali pagi ini, tak seperti pagi biasanya" puji Raffi.
“Ada apa denganmuu....!”, Nisa meniru salah satu lirik lagu band peterpan untuk Raffi.
”Mengapa Ibu tidak membangunkan Raffi tadi?”. Ibupun bingung mendengar perkatannya. Mungkin karena dia mengantuk berat sehingga dia tidak ingat kalau dari tadi Ibu sudah membangunkannya berulangkali.
 Raffi pun segera ke kamar mandi dan mandi dengan terburu-buru karena dia takut telat ke sekolah.
Setelah mandi dan berpakain, ia bergegas menuju kemeja makan. Disana sudah ada Kak Nisa dan Ibu.
“Ayo Raffi kita sarapan..!”, Ibu segera mengambilkan sepiring nasi goreng dan telur mata sapi kesukaanya.
“Ngomong-ngomong, mandinya kok cepat banget. Perasaan 5 menit yang lalu kamu baru bangun tidur. Apa jangan-jangan kamu cuma basuh muka saja... Ihh... jorok!”, kata Nisa meledek sambil menggeser kursinya dari kursi Raffi. Raffi pun kesal oleh perkataan kakaknya itu dan menumpahkan kekesalannya di meja makan dengan menolak piring makan hingga hampir jatuh.
“Sudah Kak, jangan ganggu adikmu!”, kata Ibu kepada Nisa.
 Nisa pun terdiam dan tersenyum kecil karena merasa puas berhasil meledek si adik.
“Iya dek, maafkan kakak ya..!”, ucap Nisa memohon maaf.
“Sarapan yang banyak ya dek, supaya cepat gemuk”, ucap Kak Nisa lagi untuk meyakinkan Raffi kalau ia benar-benar bersalah.
Suasana pagi yang cerah berubah menjadi pagi yang diselimuti awan hitam ketika Nisa kembali meledek Raffi. Ketika itu Raffi dan Nisa berangkat ke Sekolah bersama-sama dengan berjalan kaki karena letak Sekolah Nisa dan Raffi dekat, sedangkan Ibu sudah pergi ke pasar.
“Hmm... namanya aja yang Raffi, tapi orangnya gak rapi, bersih. Mandi aja terburu-buru, buku-buku berserakan. Cocoknya nama kamu tuh Joko alias ‘jorok kotor’...”, ledek Nisa kembali.
“Ukh... tadi sok perhatian sagala! Pake acara minta maaf. Nah, sekarang aku diejek lagi sama dia. Sekarang dimana-mana yang namanya anak tertua itu semuanya sama. Kalau gak galak, ya sok ngatur, cari perhatian”,  Raffi masih menyangsikan kasih sayang kakaknya yang usil itu.

Setibanya di Sekolahnya Raffi, wajahnya masih murung dan kesal mengingat si Kakak yang terus usil kepadanya.
 Teeet.... teeet.... Bel tanda dimulainya pelajaran pertama di Sekolah Raffi.
“Daf apa kau punya kakak atau abang di keluargamu? Apa kakak atau abangmu sering usil kepadamu? Apaa..”, Raffi terus bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada salah satu temannya.
“Punya, aku punya  satu orang kakak dan satu orang abang. Tapi mereka gak ada yang usil, semua baik-baik kepadaku”, jawab Daffa sedikit bingung dengan pertanyaan Raffi.
“Terry apa kau punya kakak ? Apa kakakmu usil kepadamu? Apa dia sering mengganggumu?”, tanya Raffi panjang lebar.
“Ya”, jawab Terry singkat.
“Iya apanya...?”, tanya Raffi sedikit kesal.
“Ter, alasannya apa..?”, tanya Raffi  sambil menggoyang-goyangkan bangku Terry.
Sejenak keadaan hening, bagai sunyi dalam keramaian. Semua murid terdiam dan mengarahkan wajah mereka kearah Raffi yang masih sibuk meminta Terry menjawab pertanyaanya.
“Ehemmm”, kata Buk Guru.
Raffi hanya terdiam karena merasa dia diperhatikan oleh banyak temannya.
 Kegiatan belajarpun dimulai...
***
Teeet...Teeet...Teeet...
 Sekolahpun telah usai. Semua murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing .... Wajah mereka yang ceria walau dipenuhi peluh keringat di siang hari tidak membuat mereka gerah dan bosan berada di Sekolah. Apalagi saat bel dibunyikan yang menandakan saatnya mereka pulang kerumah pertama dan meninggalkan rumah kedua mereka, yaitu Sekolah.
Hari ini Raffi tak pulang bersama Nisa, karena Nisa pergi bersama temannya mengerjakan tugas bersama temannya.
Raffi sepertinya sudah melupakan kejadian tadi pagi.

Setibanya dirumah...
 “Assalamu’alaikum”, Raffi memberi salam pada orang dirumah.
             “Wa’alaikumsalam, loh Kak Nisa mana..?”, tanya Ibu kepada Raffi.
             “Katanya sih kerja kelompok, Bu”, jawabnya sambil menoleh kearah meja makan.
             “Bu, ada makanan?”, tanya Raffi kepada Ibu.
             “Tidak ada Raffi. Tadi Ibu kepajak, tapi Ibu tak beli makanan.”, jawab Ibu.
             “Mengapa Ibu gak membeli?”, tanya Raffi lagi,
             “Makanan disana belum tentu sehat Raffi, lagi pula banyak makanan yang dijual didekat penjualan ayam potong, dekat trotoar. Kalau ditempat yang biasa Ibu beli itu sudah gak jualan lagi...”, jawab Ibu .
Raffi pun menghela nafas panjang. Ia tahu maksud sang Ibu yang tak ingin membeli makanan yang tak sehat untuk anaknya.

Tibanya waktu makan siang...
            “Nisa, Raffi, ayo makan...!”, kata Ibu yang meletakkan makanan keatas meja.
Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi  kejengkelan membuat Raffi berjalan sembarangan hingga ia tak sengaja membentur pintu kamarnya.
             “Aghh.. sakit banget, dasar dinding sialan”, keluh Raffi.
Hari ini Ibu menyiapkan lauk dan sayur yang sederhana yaitu sayur kangkung, Ikan teri Medan, dan lauk lain kesukaan Raffi. Tapi kali ini iya tak menikmati makan siangnya itu.
              “Raffi, dimakan sayurnya. Sayang kalau gak dimakan, mubazir.”, ucap Ibu yang menyodorkan sayur kepiring makannya.
            “Hmm...”.
            “Ada apa nak, kan Ibu sudah buat makanan kesukaan Raffi”, ucap Ibu lagi.
“Mungkin lauknya gak enak. Makan aja, sekali-kali makan ikan teri sama sayur aja napa... Makan ayam sama daging udah bosan tahu... cepat makan, nanti nasinya dingin”, desak Nisa kepada Raffi.
            “Ah... Kakak ini cara masalah aja... “, ucap Raffi kesal.
            “Ada apa Raffi...? Ada masalah di Sekolah Raffi?”, tanya Ibu.
            “Bukan. Hari ini panas banget!”, kata Raffi bermuka kencut.
            “Hah... gak nyambung banget”, ucap Nisa.
            “Oh, itu ajanya. Ya sudah hidupkan kipas angin”, kata Ibu.
            “Gak, malas..”, katanya singkat.
Raffi memang termasuk anak yang keras kepala dan kadang rajin, kadang malas. Kadang kalau angin sejuk datang padanya, ia rajin mambantu Ibu. Akan tetapi kalau yang datang angin ribut, ia akan malas untuk membantu sang Ibu.
Hari ini Badai datang kepadanya, ditambah terik siang yang menyerka tubuhnya.
Keringat bercucuran bagai air terjun dari inti sungai tanpa hentinya.
***
Pagi ini, adalah jadwal piket pagi Nisa. Tanpa sadar ternyata jam sudah menunjukkan angka 06.00, sementara Nisa harus datang sebelum pukul 06.45. Tanpa pikir panjang segera saja Nisa mandi dan bersiap-siap. Nisa langsung menyambar tas sekolah birunya itu yang merupakan hasil dari kerja kerasnya menabung. Padahal keluarganaya termasuk dalam kategori mampu. Hanya saja ia mencoba mandiri, tapi untuk beberapa saat.  Aneh... tapi itulah dia, Nisa.
Segera ia pamit kepada Ibu. Sedang Raffi masih tertidur lelap dikamarnya.
Nisa melambaikan tangannya kearah trotoar jalan. Kali ini ia akan naik ojek, karena terjadi kemacetan yang panjang dari persimpangan jalan rumahnya sampai diperempatan jalan Sekolahnya. Padahal ia bisa saja berjalan kaki, akan tetapi hal itu tidak mudah karena kendaraan yang melalui jalan itu sangatlah besar dan dapat berbahaya bagi dirinya.
Oleh karena itu ia harus naik ojek walupun akan melewati jalan pintas yang berlubang-lubang dan akan menghabiskan sedikit waktunya karena akan berputar-putar.

"Makasih pak, ini uangnya", katanya kepada tukang ojek itu.
"Kurang neng, masa cuma Rp. 5000, Neng? Tambahin Rp.2000 lagi napa! Zaman sekarang mana laku. Hidup sekarang susah neng", kata tukang ojek ngomel panjang lebar.
“BBM udah naik, masa cuma dikasih goceng mana cukup, tambahin lagi dah neng”, desaknya lagi.
               Tukang Ojek itu terlalu memaksa, membuat Nisa kesal. Padahal kalau Kak Nisa naik becak dayung, ongkosnya bahkan tak sebesar ini. Paling cuma 3000 atau 4000. Seharusnya kalau naik ojek ongkosnya agak murah sedikit karena tidak menggunakan jasa tenaga manusia.

“BBM naik...? siapa bilang. Nih tukang ojek tau aja kalau aku buru-buru. Kesempatan banget mendesakku  untuk memberinya lebih”, pikir  Nisa dalam hati.
“Makasih ya pak...!”, kata Kak Nisa sambil memberikan ongkosnya pada tukang ojek tersebut.
Tiba-tiba hujan turun. Nisa tak terlambat tiba disekolah walaupun jam sudah melewati 06.45 WIB.
***
Setibanya di Sekolah, Kak Nisa bertemu temannya, Vina namanya. Akan tetapi, Vina acuh tak acuh terhadap Nisa.
“Kalau berpapasan di  Sekolah, ia hanya tersenyum hambar, bahkan seperti menghindar dariku”, ucap Nisa dalam hati.
Vina kesal terhadap sikap Nisa karena Nisa sering tak peduli apabila Vina meminta Nisa menemaninya kesuatu tempat misalnya. Jarak antara mereka menjadi renggang karena sering disebabkan jurusan yang mereka ambil berbeda. Nisa mengambil jurusan dibidang IPA, sedang Vina mengambil jurusan dibidang Bahasa. Oleh karena itu mereka jarang bertukar pikiran dan mengerjakan tugas bersama. Dan juga jarak ruang kelas mereka sangat jauh.
“Nis, ada apa denganmu...?”, kata Nisa.
“Hah...?”.
“Oh... gak kenapa-napa”, jawab Vina pendek.
“Tapi...kok kamu kayak asing gitu padaku? apa aku punya salah padamu..?”, tanya Nisa lagi.
“Bukan gitu Nis, kita itu kayak ada tmbok besar yang membatasi kita. Ngertikan...?”, ucap Vina.
“Maksudnya Vin..?”, tanya Nisa bingung.
Setelah berbicara panjang lebar, merekapun menyelesaikan masalah mereka secara damai.
“Baiklah, maafkan aku bila aku sering tak acuh kepadamu”, ucap Nisa pada Vina.
“Iya, aku juga minta maaf kalau aku sering marah padamu”, ucap Vina dan memeluk Nisa sebagai tanda kembalinya pertemanan mereka yang sempat renggang.

Bel Sekolah berbunyi, mereka kembali ke kelasnya masing-masing.
Di Sekolah, Nisa adalah siswa yang berotak biasa.
“Huh, aku memang tak jenius.”,ucapnya dalam hati.
“Aku bahkan tak seperti temanku, Vina. Ia lebih pandai daripada aku. Ia bahkan dapat menjadi penulis termuda di Sekolah. Ia memang berbakat”, ucap Nisa yang memandingkan tingkat kepintarannya dengan temannya.
Saat itu Nisa sedang mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Ia dan teman sekelasnya diberi tugas oleh Bu Dina, seorang guru Bahasa Indonesia yang berparas cantik, muda , baik, dan tinggi.
Nisa dan temannya diberi tugas untuk membuat cerpen yang harus dikarang sendiri. Tugas ini untuk mengisi hari libur mereka menjelang UAN kelas 3.
“Anak-anak, kalian Ibu beri tugas untuk membuat sebuah cerpen yang dikarang sendiri.  Tema cerpen yang akan Ibu berikan tidak bebas. Setiap dari kalian akan diberikan tema tersendiri oleh  Ibuk”, kata Bu Guru.
Tentu kelas menjadi gaduh karena tugas ini akan mempersulit mereka , walaupun Bu Guru sudah menentukan temanya.
Ada tema tentang persahabatan, pengabdian, penganiayaan, percintaan, perkembangan zaman, pengorbanan, kehidupan, pendidikan, dan keluarga, pengalaman, dan tema-tema lainnya yang membingungkan mereka.
Bu Guru tahu, bahwa bila siswanya diberi tugas mengarang cerita, kebanyakan dari mereka akan membuat cerpen dengan tema percintaan dan persahabatan. Oleh karena itu tema mereka dibeda-bedakan supaya bervariasi.
Walaupun demikian, beberapa dari mereka ada yang memiliki tema yang sama.
Bu Gurupun meninggalkan kelas karena ada rapat mengenai UAN kelas 3.
Mereka diberi tugas oleh Bu Guru. Mereka tak dipulangkan karena beberapa menit lagi bel penanda pulang akan berbunyi.
“Kalian buat cerpen tentang apa ??”,  tanya Nisa pada dua orang teman di depan bangkunya..
“Entah... bingung. Tema yang diberikan Bu Guru aja aku kagak ngerti”,  ucap  Ita sambil  menggenggam handphone barunya.
“Kalau kamu dis?”, tanya Nisa lagi pada teman yang satunya.
“tau ah... suram. Bantuin dong ...!”, ucap Gadis.
“Hey lihat aku punya lagu baru lho... lagu terbarunya Westlife”, timpal Katy pamer.
“Waduh, gak nyambung nih anak... Lagunya Adele ada gak.. hahaa”, timpal yang lainnya.
Tiba-tiba kelas hining sejenak...
“aaaaahhhhh, gak tahu apa yang mau di ceritakan ini. Masa aku diberi tema tentang keluarga...”,  teriak Nisa hingga membuat Sartika teman sebangkunya menatapnya sinis.
“agh.. bikin terkejut aja ni anak...!”, ucap Sartika sedikit kesal.
“Hey ngapain stres sendiri, santai aja. Cerpen mah gampang...!”, ucap Randi sepele. Siapa lagi kalau gak ketua kelas yang kelebihan hormon usil itu.
“Kan bisa cari di internet, susah-susah. Udah santai aja...”, katanya lagi hingga memecah konsentrasi Nisa dan temannya yang lain.
“Ahaaa... bagaimana kalau kita buat cerpen tentang Artis Korea. Sekarangkan sedang marak-maraknya.”, teriak Geby sehingga membangunkan penduduk satu kampung. Ahh, maksudnya mengejutkan seisi kelas.
Teriakan Geby disambut dengan anggukan teman-teman disekitarnya.
“Ssstt, Ericha mau nulis cerpen tentang apa..?”, tanya Nisa.
“Mau buat cerpen percintaan, pengalaman sendiri...!”, jawab Ericha.
“Kamu mah enak, pandai bikin cerpen. Sedangkan aku..? apa coba. Udah tau temanya gampang, tapi menuangkan kata-kata dalam kertas aja susah bener”, keluh Nisa.
***
Teeet... bel berbunyi berkali-kali.
Tiba-tiba langit cerah berubah menjadi kelabu....
Langitpun menangis dan membasahi sesisi kota.
“Vin, pulang sama yuk.. Aku bawa payung nih. Rumah kita kan hampir berdekatan“, ucap Nisa.
“Yukk....”, jawab Vina.
“Tampaknya kamu ada kesulitan?”, tanya Vina yang melihat Nisa bermuka kecut.
“Iya aku diberi tugas oleh Bu Guru buat cerpen, temanya ditentukan. Temanya itu tentang keluarga”, ucap Nisa.
“Ohh.. itu kan gampang. Kamu tulis aja cerita tentang keluargamu sendiri”, jawab Vina.
Hujan datang lagi. Nisa dan Vina menjemput Raffi disekolahnya. Ternyata Raffi membawa payung sehingga mereka dapat pulang bertiga bersama.
Mereka berteduh di Halte Sekolah Raffi karena hujan datang sangat deras.
“Jadi , gimana setuju gak usulku?”, tanya Vina lagi.
“Keluarga sendiri? Kayaknya aku gak punya cerita menarik di keluargaku, biasa-biasa aja... kalau kamu buat cerpen pertama kali inspirasinya dari mana..?”, tanya Nisa masih bimbang.
“Kalau aku sih, dimulai dari pengalaman kita sendiri, lalu naik tingkat ke pengalaman teman, lingkungan sekitar, lalu barulah sampai ketingkat imajinasi atau khayalan kita sendiri”,  sekali lagi kata-kata Vina membuat Nisa terkejut.
“Wah, iya juga ya....”,  kataNisa kagum dengan jawabanVina.
Raffi hanya diam dan tak mencampuri urusan mereka. Ia sedang asik memandangi nilai ulangan Matematikanya yang mendapatkan nilai 96.
“Tapi Vin, aku kurang tahu menyusun kata-kata. Bahkan bakatku sendiripun aku gak tau”, keluhnya lagi.
 “Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, kuman di seberang lautan kelihatan”, ungkapan dari Vina menambah bingung Nisa.
“Maksudnya...?”, tanya Nisa bingung.
“Kak Nisa kalau dengar kata pepatah atau majas mana tau, mana ngerti, diakan....”, timpal Raffi.
“Apa, kau anggap aku bodoh.. mentang-mentang dapat nilai 96 udah bangga. Sombong...!”, ucap Nisa kesal.
“Udah-udah, maksudnya itu bakat kamu itu ada, tapi belum kelihatan. Maksudnya lagi kamu punya bakat tersembunyi, tapi gak tahu dimana letak bakat tersembunyi itu. Entah ada di sekitarmu, tapi kamu gak tahu, atau kamu tahu bakatmu tapi gak dikembangkan.. Gitoe!”, kata-katanya membuat Nisa paham akan maksud itu.
“Ooo.. sekarang aku mengerti”, kata Nisa mengangguk mengerti.
“oooo, kebanyakan O nanti bulat lho.. hahaha”, ledek Raffi lagi.
Hujan masih turun deras, tiba-tiba saja berhenti setelah Nisa selesai membahas tentang cerpen dan bakat.
“Hujan udah berhenti, yuk kita pulang...”, ajak Nisa dan merekapun pergi meninggalkan Halte dan pulang ke rumah masing-masing.
***
Setelah selesai makan siang, Nisa menuju kamarnya dan bergegas membuat cerpen.
“Ahaa!”, sebuah ide muncul dikepalanya.
 “Aku buat cerita tentang keluargaku sendiri aja. Memang benar kata Vina kalau ingin buat cerita dimulai dari pengalaman pribadi atau sekitar dulu”, ungkapnya senang.
Nisa pun mulai membuat cerita...
Ketika sedang asik menulis cerita. Ia teringat ungkapan yang dituturkan oleh Mario Teguh dalam sebuah jejaring sosial, yang isinya:
Anda yang sedang kesal karena perendahan orang lain,
It's OK mereka merendahkan Anda sekarang, asal yang Anda lakukan akan menjadikan Anda lebih tinggi daripada mereka.
Sabarlah. Dunia ini berputar, dan berpihak kepada yang sabar dan rajin.
Ini hanya masalah waktu.
________________________
Mario Teguh
Melihat ungkapan itu, Nisa menjadi lebih semangat dalam menulis cerita. Ia ingin mencari dan mengetahui bakatnya seperti yang dikatakan temannya. Walaupun nantinya ia bukan menjadi penulis, ia akan berusaha agar dapat menemukan bakatnya dibidang apapun itu.
“Ya... aku harus semangat, dunia ini berputar. Setelah aku tahu bakatku, aku akan mengembangkannya dan menjadikannya sebuah kesuksesan bagiku, agar aku gak direndahkan orang lain dan agar aku menjadi lebih dari mereka”, ucap Nisa semangat.
Melihat si Kakak berbicara sendiri dikamar, Raffi bertanya,”Ada apa dengan Kakak?”.
“Gak ada, biar semangat aja ngerjakan tugas”, alih Nisa.
Melihat Nisa tak kunjung keluar kamar, ia pun menjumpai Nisa dan menyodorkannya sebungkus roti isi keju kesukaan Nisa.
“Kak, mau gak?”, ucapnya
“Apa? Mau apa? Boleh...”, Nisa menyambar Roti itu dari tangan Raffi.
“Uhh.. udah dikasih, gak sopan”, kesalnya.
“Iya deh, makasih ya adikku baik...!”, puji Nisa.
Nisapun melanjutkan cerpennya.
Kebaikan sang adik membuat jalan ceritanya tambah panjang. Karena Nisa menulis cerpen tentang sang adik, Raffi. Nisa menulis cerita tentang kejahilan sang adik dan kejahilannya kepada Raffi.
Tapi, dia tak tahu akhir dari ceritanya....
Hari berganti hari, langit biru berubah menjadi kelabu. Entah kenapa, apa langit menangis lagi??. Padahal musim lalu, langit selalu riang. Jarang bersedih.  Ia selalu ditemani matahari, tapi kini matahari jarang bertemu dengannya. Apa ada jarak antara mereka?. Seperti Nisa dan Vina yang dulu sempat renggang dan akhirnya berteman lagi.
Hari ini Nisa libur sekolah karena kelas 3 sedang melaksanakan ujian. Sedangkan Raffi masih bersekolah.
“Bu, ada telepon dari sekolah Raffi...!”, kata Nisa.
“Dari Sekolah?”, jawab Ibu sedikit terkejut.
“Selamat siang Buk. Apa ini dengan Ibunya Raffi?”, suara pria terdengar ditelepon.
“Ya, benar. Ada apa ya Pak..?”, tanya Ibu penasaran.
“Begini Buk, tadi anak Ibu Raffi mengalami kecelakaan, dia terjatuh di tengah jalan. Saya kurang tahu pasti penyebabnya. Kata murid lainnya ia terjatuh karena terpeleset dijalan”, kata pria yang merupakan Guru Sekolah Raffi.
“Apa pak, Astagfirullah. Ya Tuhan... Dimana anak saya sekarang ya pak?”, tanya Ibu gelisah.
Kak Nisa yang penasaran mengapa Ibu samapai terkejut seperti kehilangan barang berharga, bertanya pada Ibu. Mendekatkkan telinganya ketelepon.
“Ada apa Bu?”, tanya Nisa.
“Ssstt”.
“Anak Ibu ada di RSU dekat Sekolah”, jawab Guru tersebut.
Ibu dan Nisa segera bergegas menuju Rumah Sakit.
“Ada apa dengan anak saya Pak?”, tanya Ibu kepada Guru Raffi.
“Kata Dokter tangan kanan anak Ibu mengalami keretakan pada sendinya”, kata Guru itu.
“Tapi anak saya tak kenapa-kenapa kan pak?”, Ibu masih belum yakin dengan pernyataan Pak Guru.
“Iya Buk, kalau dirawat dengan baik, empat minggu atau enam minggu sudah bisa digerakkan. Dokter mengatakan retaknya tak parah dan tak membahayakan persendiannya”, kata Pak Guru meyakinkan Ibu.
Mendengar itu Nisa merasa kecewa dan bersedih. Ia merasa gara-gara hujan yang deras adiknya mengalami musibah seperti ini.
Ia menghampiri Raffi yang tengah tertidur. Ia tak tahu apakah Raffi dapat tertidur dengan nyenyak setelah musibah ini datang padanya atau tidak.
***
Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit, Raffi akhirnya dikembalikan ke Rumahnya. Ia dirawat dengan baik oleh Ibu dan Kakaknya. Tak jarang Nisa juga menjahili sang adik walaupun Raffi masih sakit.
“Hey... ayo tangkap. Tangkap kalau bisa...”, kata Nisa pada Raffi.
“Ahh... kembalikan perbanku. Ibu.. Kak Nisa menggangguku..”, teriak Raffi.
Pada saat itu Ibu sedang pergi ke Apotek membeli obat.
Tiba-tiba....
Gbrukkk.......
“Aduhhh... sakit!!”, rintih Raffi.
“Ada apa ini ribut-ribut”, Ibu datang dan melihat Raffi terjatuh dilantai.
“Ya Allah... Raffi. Mengapa bisa terjatuh”, Ibu terkejut melihatnya.
Nisapun segera menolong Raffi. Nisa menyesal karena sudah mengganggu Raffi.
“Nisa gak sengaja bu....!”, ucap Nisa.
“Kamu jahil lagi ya pada adikmu..?”, tanya Ibu.
“hmm, iya. Maaf ya dik..!”, kata kak Nisa meminta maaf.
Raffi hanya diam menahan sakitnya dan berpikir kalau Nisa sok perhatian lagi padanya seperti dulu... Ingatan itu datang lagi kepadnya dan berkata dalam hati,” Aku sudah kenyang melihat kenyataan permainan dunia sekarang”.
Syukurnya, Raffi tak apa-apa. Untungnya ketika ia sedang rebutan perban hingga ia terjatuh, tangannya sudah ditopangnya duluan sehingga tak membentur lantai. Hanya saja kakinya yang terkilir.
Sore harinya, Nisa pergi membeli soto kesukaan adiknya Raffi diwarung dekat Rumah. Ini sebagai permintaan maafnya yang sering meledek Raffi.
Cuaca yang masih cerah tiba-tiba mendadak mendung lagi dan akhirnya turun hujan. Nisa tidak membawa payung, kendaraapun tak ada yang lewat. Ia pulang kerumah dengan berjalan kaki karena jarak rumah dengan warung cukup dekat.
Setibanya dirumah, ia basah kuyup. Nisa memberikan soto itu kepada Raffi, tapi karena Raffi maih jengkel pada kakaknya dan berpikir Nisa ingin mencari perhatian lagi, ia pun menolak pemberian itu.
“Gak ah... udah kenyang!”, ucap Raffi sambil menuju kamarnya dengan jalan tertatih-tatih.
“Benar, gak mau... ya udah!”, ucap Nisa pelan.
Esoknya, Nisa batuk-batuk dan demam. Raffi merasa bersalah.
“Aku merasa dikejar-kejar dosa”, katanya menyesal.
Tiba-tiba dihatinya ada suatu kekhawatiran. Ia melihat kakaknya tidak selera makan. Melihat itu, Raffi menghampiri Nisa dan memberinya obat demam dan air minum.
Dan berkata,”Kakak sakit..?”.
“Iya”, ucap Nisa.
“M...maaf ya kak, jangan lupa minum obat, supaya lekas sembuh”, ucap Raffi yang memegang kening Nisa yang panas.
Nisa memeluk Raffi bahagia,”Terima kasih, Raffi”.
Setelah sembuh, Nisa melanjutkan cerpennya yang akan dikumpulnya besok.
Dia masih bingung akhir ceritanya.
Lima menit kemudian....
“Kenapa aku tidak membuat ending yang kayak gini aja?? Kenapa gak terpikir olehku??”, Nisa memikirkan akhir cerita dari cerpennya tentang kebaikan sang adik yang ternyata perhatian padanya.
“Hhh.. empat kata untukku ‘aku berhasil menyelesaikan cerpenku’...!”, teriaknya.
Akhirnya Nisa berhasil menyelesaikan cerpennya tepat waktu. Beberapa minggu kemudian Raffi juga sembuh dan tangannya dapat digerakkan lagi. Semua aktivitas berjalan dengan lancar.
Raffi pun berpikir kalau kejahilan kakaknya itu hanya untuk mempererat persaudaraan mereka, walaupun dengan cara demikian.





   Sibolga, 03 April 2012


      Isti Nadya Septian

2 komentar: